Bergaul Karib dengan Tuhan

January 2000 ยท 4 minute read

Dan Henokh hidup bergaul dengan Tuhan, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Tuhan Kej.5:24.

Di dinding ruang tamu di suatu rumah yang mentereng, seorang ‘terpandang’, terpampang sebuah foto yang diperbesar, seukuran lukisan dinding. Pada foto itu terlihat dua orang berjabatan tangan dengan senyum ceria pada wajah masing-masing. Satu wajah pada foto itu adalah wajah si Terpandang, sedangkan yang seorang lagi adalah… wajah Kepala Negara! Bukan main, pergaulannya adalah dengan Kepala Negara! Dengan peminta-minta ia tidak bergaul; “percuma”, pikir si Terpandang; “bergaul dengan para pengemis hanya akan merusak citra ke-terpandang-an kami di tengah masyarakat”. Maka ia membuat pintu gerbang yang kuat dan pagar yang tinggi, memisahkan dia dari golongan ‘rendahan’…..

Dalam sebuah buku kuno, sangat kuno, direkam riwayat seorang bersahaja, tidak mempunyai garis-keturunan yang jelas, tidak memiliki alamat rumah yang tetap, berkelana kian-kemari, menginap di serambi-serambi rumah ibadah. Pada suatu hari si ‘Kelana’ ini bertemu dengan seorang yang lumpuh sejak lahirnya. Orang lumpuh itu menatap si ‘Kelana’ dengan harapan akan mendapat sedekah. Tetapi si ‘Kelana’ berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku. Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang lumpuh itu dan membantunya berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang lumpuh itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari di dalam rumah ibadah itu.

Pembaca yang budiman, saya berani memastikan anda tidak tahu nama orang kaya dalam ceritera yang pertama: si Terpandang, yang menonjolkan pergaulannya dengan Kepala Negara. Tetapi saya yakin anda mengetahui nama asli si ‘Kelana’, walaupun saya tidak mengutarakannya. Mengapa demikian?

Karena si ‘Kelana’ adalah seorang yang bergaul karib dengan Yesus Kristus; ia tidak menganggap penting pergaulan dengan bangsawan, lebih berarti baginya pergaulan dengan Tuhan! Kalau anda menganggap Tuhan lebih tinggi, lebih mulia, lebih hebat dari para bangsawan, bukankah itu berarti pergaulan dengan Tuhan lebih luhur artinya dari pada pergaulan dengan sekedar para bangsawan? Inilah tantangan yang sangat rasionil bagi anda: adakah keinginan dalam diri anda untuk bergaul-karib dengan Tuhan? Kalau keinginan itu tidak ada, inilah ketikanya yang tepat untuk menyingkirkan buku kecil ini, sebab isinya hanyalah sekedar menuntun pembaca untuk masuk ke dalam pergaulan yang karib dengan Tuhan.

Sebaliknya, kalau anda meneruskan membaca, itulah pertanda bahwa anda berkeinginan untuk bergaul karib dengan Tuhan! Maka saya ‘claim’:

“dalam nama Yesus, anda menjadi seorang calon ‘pegaul-karib’ dengan Tuhan Yesus! Dan Roh Kudus, saya mohon Engkau mem proses selanjutnya setiap pembaca yang berkeinginan begitu!”

Anda mungkin bertanya: “Si Kelana tadi, mengingat pergaulannya dengan Tuhan, apakah pantas bergaul juga dengan para pengemis?” Pertanyaan yang bijak ini harus beroleh jawaban yang sama bijaknya. Jawaban untuk itu adalah “Ya!” Sebab Tuhan menghendaki setiap pegaul yang karib dengan Dia harus bergaul juga dengan para pengemis, orang-susah, orang sakit, orang terpenjara, bahkan dengan orang-orang terbuang! Bacalah Mat.25:31-46, yang mengandung satu kalimat yang sangat berwibawa: “…sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Bergaul dengan TUHAN, enak betul ya? Pasti menyenangkan, luar biasa enaknya! Dan orang yang bergaul dengan Tuhan pasti memiliki keabadian! Sebab TUHAN itu abadi! Lihatlah, Henokh bergaul dengan Tuhan selama lebih dari tiga ratus tahun. Dia mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Kenangan masyarakat terhadapnya tidak hilang. Dan ribuan tahun kemudian, surat Ibrani masih mengingat akan dia. Ibr.11:5 merekam: Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Tuhan telah mengangkatnya.

Bahkan ribuan tahun setelah surat Ibrani itu, buku yang anda pegang ini masih mengenang Henokh. Ke’abadi’an di dunia langsung dikecap oleh orang-orang yang bergaul dengan Tuhan. Terjamin pula keabadian di Sorga, bagi mereka yang mau bergaul dengan Tuhan, mengabaikan pergaulan dengan para bangsawan! Pada golongan manakah anda berada; golongan si ‘Terpandang’ dengan pergaulan bangsawannya? Ataukah golongan si ‘Kelana’ yang bersahaja itu?

Dan buku kecil ini sangat berharga bagi mereka yang selama ini menghargai pergaulan dengan bangsawan itu! Bacalah buku ini dengan cermat, karena yang disampaikannya adalah pergaulan dengan Tuhan, TOP-NYA BANGSAWAN !!

Baca selengkapnya